Friday, 5 October 2012

KOALISI DORONG PEMBENTUKAN KIP RIAU DIDEKLARASIKAN

Pekanbaru, Rabu 3 Oktober 2012---Sebanyak 25 Organisasi Masyarakat Sipil di Riau mendeklarasikan Koalisi Keterbukaan Informasi untuk Rakyat (KoKI Rakyat), Rabu (3/10). Deklarasi dilakukan di Aula RRIPekanbaru. Pendeklarasian ditandai dengan aksi teatrikal pemutusan belenggu di tangan masing-masing anggota koalisi sebagai simbol keterkungkungan atas Informasi Publik selama ini.

Organisasi Masyarakat Sipil (Civil Society Organizations) yang tergabung dalam organisasi ini adalah Institute Social and Economic Change (ISEC), FITRA RIAU, Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (JIKALAHARI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pekanbaru, Transparansi International Indonesia (TII), Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Riau, Lembaga Pemberdayaan dan Aksi Demokrasi (LPAD) Riau, Khazanah Alam dan Budaya Tropis (KABUT) Riau, Yayasan Riau Mandiri (YRM), Greenpease SEA, Pemuda Riau Bersatu (PRB), Yayasan Bunga Bangsa (YBB) Riau, Rumpun Perempuan dan Anak Riau (RuPARi), WWF, Rumah Pohon (Tree House), Telapak Riau, Riau Corruption Trial (RCT), Sikap Tulus untuk Sesama (SIKLUS), Scale Up, Perkumpulan Elang, Jaringan Masyarakat Gambut Riau (JMGR), ASPIKOM, Aliansi Masyarakat Adat (AMAN) Riau, Yayasan Mitra Insani (YMI), dan YLBHI-LBH Pekanbaru.

Diungkapkan Koordinator Koalisi Keterbukaan Informasi untuk Rakyat (KoKI Rakyat), Triono Hadi, Koalisi ini dibentuk dan dideklarasikan untuk mengupayakan dan mendorong adanya keterbukaan informasi publik di Riau. Keterbukaan itu diantaranya dapat didorong melalui adanya Komisi Informasi Publik (KIP) Riau.

Lebih Lanjut disampaikannya, KIP daerah adalah amanah konstitusi, khususnya Undang-undang No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri tahun 2010. Kondisi-kondisi tersebut masih belum terjadi di Riau. "Karena itu, melalui koalisi ini, kita mendorong agar Komisi Informasi Publik di Riau dibentuk. Kita mendesak Pemprov dan DPRD Riau segera membentuk KIP Riau," kata Triono.

Dikatakannya, Undang-undang mewajibkan tiap daerah membentuk KIP daerah paling lambat dua (2) tahun setelah UU diberlakukan. Dua tahun itu, adalah 2010, telah lewat. Namun hingga kini, proses pembentukan itu masih belum berlangsung..

"Kita memandang penting desakan dibentuknya KIP Riau karena informasi publik sektor korupsi, anggaran, kehutanan, pertambangan dan hak publik lainnya tidak transparan di Propinsi Riau. Kalau fakta ini dibiarkan, hak asasi manusia dilanggar oleh penyelenggara negara. Ini sungguh ironis, karena hak untuk tahu dan memanfaatkan informasi adalah hak dasar setiap manusia," Triono menegaskan.

Data hasil uji akses dokumen yang dilakukan FITRA Riau pada tahun 2010-2011 menunjukkan 65 % Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang berada dalam lingkungan Pemerintah Propinsi Riau tidak terbuka terhadap informasi yang dibutuhkan publik.

Ditambahkannya, Koalisi melihat sejauh ini Pemprov dan DPRD Riau tidak serius membentuk KIP Riau. Ini bukti pejabat publik tak berpihak pada publiknya sendiri.

Ia juga mengungkapkan, keterbukaan informasi publik merupakan salah satu ciri penting negara demokratis yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat untuk mewujudkan penyelenggaraan  negara yang baik (good governance).

Lahirnya Undang-undang Nomor 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik secara historis karena tuntutan reformasi. Reformasi yang sudah berumur lebih dari satu dasawarsa telah membawa perubahan dalam sistem pemerintahan negara. Reformasi ditandai dengan adanya tuntutan tata kelola kepemerintahan yang baik yang baik (Good Governance) yang mensyaratkan adanya akuntabilitas, transparansi dan partisipasi masyarakat dalam dalam setiap proses terjadinya kebijakan atau keputusan.

"Keterbukaan Informasi Publik adalah wujud negara demokratis dan menjunjung hak asasi manusia. Juga wujud negara bebas dari korupsi. Ini juga bentuk perlawanan koalisi terhadap korupsi di bidang anggaran publik, kehutanan dan pertambangan di Propinsi Riau," ujar Triono Hadi mengingatkan.

Wawancara lebih lanjut silakan hubungi:
Triono Hadi, 0853 7636 8128
Dina Febriastuti, 0813 7832 8232
Rusmadya, 0813 654 223 73
Priyo Anggoro, 0812 6883 0270

Sunday, 2 September 2012

BIOGAS untuk Perempuan

“Institute Social and Economic Change (ISEC) Riau berinisiatif untuk menjembatani celah antara meningkatnya beban perempuan karena kelangkaan sumber energi dan melimpahnya sumber bahan bakar alternatif di sekitar kampung. ISEC memperkenalkan teknologi biogas dari kotoran sapi untuk memenuhi kebutuhan energi untuk memasak sehari- hari keluarga dan untuk membangkitkan tenaga listrik.”


Perempuan dan Energi


Perempuan berperan besar dalam pengaturan penggunaan energi dalam rumah tangga. Kelangkaan sumber energi untuk keperluan keluarga acap dibebankan pada perempuan. Sering kali terlihat perempuan mengantri berjam-jam hanya untuk mendapatkan beberapa liter minyak tanah untuk kebutuhan keluarga. Kondisi ini menyebabkan waktu dan beban kerja perempuan semakin berat.

Ketersediaan sumber energi alternatif yang ada di lingkungan sekitar sering diabaikan oleh masyarakat. Ketidaktahuan masyarakat dan rendahnya penguasaan teknologi menyebabkan banyak sumber energi yang terbuang percuma. Contoh paling dekat adalah kotoran sapi, limbah peternakan sapi yang tersedia dimana- mana. Masih sedikit orang yang mengetahui bahwa kotoran tersebut bisa digunakan sebagai bahan bakar.

Institute Social and Economic Change (ISEC) berinisiatif untuk menjembatani celah antara meningkatnya beban perempuan karena kelangkaan sumber energi dan melimpahnya sumber bahan bakar alternatif di sekitar kampung. ISEC memperkenalkan teknologi biogas dari kotoran sapi untuk memenuhi kebutuhan energi untuk memasak sehari-hari keluarga dan untuk membangkitkan tenaga listrik. ISEC percaya bahwa pendekatan ini mampu meningkatkan produktivitas masyarakat dan meningkatkan taraf hidup. Pendekatan ini akan menjadi teladan bagi masyarakat lain bahwa ketergantungan pada bahan bakar minyak dapat dikurangi dengan menggunakan bahan bakar alternatif yang melimpah di sekitar kampung.

Mengapa Biogas?

Biogas adalah gas yang dihasilkan dari penguraian bahan organik dalam kondisi anaerob oleh bakteri- bakteri pengurai. Gas yang dihasilkan adalah campuran berbagai gas seperti karbon dioksida dan metana yang dapat terbakar sehingga dapat digunakan untuk memasak dan menjalankan mesin. Selain gas, dihasilkan pula pupuk organik sebagai hasil sampingan.

Bahan baku biogas dapat ditemukan secara melimpah dimana-mana hampir tanpa mengeluarkan biaya. Kotoran ternak seperti sapi, babi, kambing bahkan kotoran manusia bisa digunakan. Selain itu limbah sayur-sayuran, eceng gondok, dan limbah pabrik tahu serta pabrik minyak kelapa sawit juga bisa digunakan untuk bahan pembuat biogas.


Biogas untuk Perempuan

Proyek Biogas untuk Perempuan ini bertitel resmi “Cow manure: Sustainable And Green Energy Development To Support Economy And Community Welfare in Suka Maju Women’s Group, Teluk Meranti, Riau-Indonesia”. Didanai oleh program Energy and Environment Partnership for Indonesia (EEP), program kerjasama pemerintah Finlandia melalui Kementrian urusan luar negeri (Ministry for Foreign Affairs of Finland) dan Kementrian Energi dan Sumberdaya Mineral di bawah Direktorat Jendral Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi.




Kelompok Sasaran

Kelompok sasaran proyek ini adalah anggota kelompok perempuan Sukamaju Kelurahan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Propinsi Riau. Kelompok ini memiliki 30 orang anggota yang kesemuanya adalah ibu rumah tangga dan perempuan muda.

Tujuan dan Sasaran Proyek

Tujuan utama proyek ini adalah untuk meningkatkan akses terhadap energi terbaharukan dan meningkatkan kesadaran masyarakat umum terhadap potensi sumber energi terbaharukan khususnya bagi masyarakat desa Teluk Meranti dan desa lain di Riau.

Sasaran proyek ini adalah:

- meningkatnya produktifitas perempuan anggota kelompok

- terciptanya lapangan kerja

- meningkatkan tingkat ekonomi anggota kelompok perempuan Sukamaju

- meningkatnya kesadaran tentang pemanfaatan teknologi biogas skala kecil untuk kebutuhan energi memanfaatkan kotoran ternak dan limbah lainnya.

Luaran Proyek

Luaran yang akan dihasilkan pada akhir proyek ini adalah:

1. Anggota kelompok Sukamaju terlatih untuk mengoperasikan instalasi biogas skala kecil di lingkungannya

2. Empat unit reaktor biogas kapasitas 5000 liter terpasang dan dimanfaatkan untuk kebutuhan energi anggota kelompok

3. Empat unit reaktor biogas beroperasi menghasilkan energi untuk memasak dan membangkitkan tenaga listrik serta menghasilkan pupuk organik

4. Produktivitas anggota kelompok meningkat dengan penggunaan energi biogas

Pendekatan Proyek

Proyek ini menggunakan pendekatan partisipatif melibatkan perempuan dan laki-laki untuk mewujudkan tujuan proyek. Proyek akan dimulai dengan konsultasi dan penyebaran informasi tentang teknologi biogas dan kemungkinan untuk diterapkan di lokasi proyek.

Masyarakat akan membangun sendiri reaktor biogas dengan bantuan tenaga ahli dari Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang.

Sebelumnya, tenaga ahli memberikan pelatihan tentang konstruksi dan perawatan reaktor biogas. Dengan pendekatan partisipatif, diharapkan kegiatan ini akan tetap terpelihara dan berkembang setelah masa proyek berakhir.

Wednesday, 30 May 2012



Institute of Social and Economic Change (ISEC)
ISEC is an association, based in Pekanbaru, Riau Province Sumatera Indonesia with working area in Indonesia which was approved by the Deed Hamdani, SH number 01, dated on 19th May 2009 in Pekanbaru District Court.

The vision of ISEC to build up the society for being independent, strong, intelligent, critical, healthy, prosperous, insight to environment and support the sustainable life.

ISEC goal is to improve the quality of people living in social, economics, health, and environment by upholding the values of humanity, gender equality, democracy and sustainability.

Therefore, there are some strategies in order to realize the vision, mission and goals of ISEC :
a. Conduct the education, enforcement and assistance to develop ways of critical thinking in community
b. Facilitate the provision of information to build up the effort and activities which could fosters and encourage self reliance
c. Build partnerships and networks with various parties that do not raise any conflict with values and principles of institution



Friday, 4 May 2012


Melihat Kerajinan Tangan Berbahan Eceng Gondok

Eceng gondok (Eichhornia crassipes) adalah salah satu jenis tumbuhan air mengapung. Selain dikenal dengan nama eceng gondok, di beberapa daerah di Indonesia, eceng gondok mempunyai nama lain seperti di daerah Palembang dikenal dengan nama Kelipuk, di Lampung dikenal dengan nama Ringgak, di Dayak dikenal dengan nama Ilung-ilung, di Manado dikenal dengan nama Tumpe.

Bagi masyarakat di sekitar pinggiran sungai, enceng gondok adalah tanaman parasit yang hanya mengotori sungai dan dapat menyebabkan sungai menjadi tersumbat atau meluap karena enceng gondok terlalu banyak. Begitu pula bagi para masyakat disekitar pinggiran danau yang menganggap enceng gondok yang banyak didanau adalah penggau yang menghalangi aktivitas mereka di danau tersebut.

Kenyataan ini yang bisa menjadikan eceng gondok dianggap sebagai tanaman penggangu, tetapi bila kita jeli mencari peluang, maka tanaman eceng gondok sangat bermanfaat untuk memberikan peluang usaha sebagai bahan dasar kerajinan tangan. Seiring dengan perkembangan iptek, bagian tumbuhan eceng gondok setelah dikeringkan ternyata bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan tas wanita yang cantik, kopor, sendal, keranjang (tempat pakaian bekas), tatakan gelas, tikar, nampan dan sebagainya. Malah belakangan ini banyak dimanfaatkan untuk mendukung industri mebel den furniture, sebagai pengganti rotan yang harganya semakin melangit.

Hingga saat ini sudah banyak daerah yang mampu mengembangkan kerajinan tangan dari eceng gondok yang mempesona untuk pembuatan barang-barang kerajinan, mebel den furniture. Antara lain di Purbalingga, Dl Yogyakarta, sekitar Kota Solo, Cirebon, Lampung, Surabaya dan Bali. Bahkan sebagian barang-barang kerajinan tangan berbahan eceng gondok dengan model dan kualitas tertentu, banyak diekspor ke Eropa dan Amerika Serikat yang semakin gandrung dengan barang-barang produksi dari bahan-bahan alami (back to nature).

Pembuatan kerajinan tangan dari bahan eceng gondok ini dibutuhkan proses yang cukup lama. Eceng gondok terlebih dahulu harus dikeringkan sekitar dua minggu. Setelah eceng gondok mengering lalu dibentuk kepangan panjang yang dilakukan warga dan kelompok perajin. Setelah berbentuk kepangan panjang, eceng-eceng tersebut dianyam menjadi barang yang diinginkan. Mulai dari pot bunga, tempat sampah, box tissue, tas, topi, perlengakapan dapur hingga furniture. Untuk lebih meningkatkan daya tarik pembeli, hasil anyaman tersebut ditambahakan cat pernis. Sehingga, tampilannya lebih mengkilap dan menarik.

Rata-rata kerajinan tangan ini dijual di pasaran dengan harga mulai dari Rp 15 ribu hingga 5 juta. Tergantung dari ukuran barang dan tingkat kesulitan anyaman.

Berikut adalah langkah-langkah dalam pembuatan karya kerajinan tangan dengan bahan eceng gondok :


* Pengumpulan eceng gondok
   
* Pemisahan pangkal tangkai
   
* Pengeringan pangkal tangkai
   
* Penguliran
   
* Pembentukan/penganyaman jadi karya seni (Tas, hiasan dinding, dompet, kursi dll)



Pernah mendengar tentang Rawa Pening? Atau bahkan pernah berkunjung ke sana? Dari namanya saja sudah bikin kepala nyut-nyutan alias pening ya. Meskipun sebenarnya menurut tante wiki, kata 'pening' tidak ada kaitannya sama sekali dengan sakit kepala ataupun pusing. Pening justru berasal dari kata 'bening' yang dalam Bahasa Jawa berarti jernih. Namun, yang terjadi saat ini danau yang konon ceritanya terjadi dari cabutan lidinya Baru Klinting ini tidak lagi bening, justru benar-benar membuat pening banyak pihak yang berkepentingan.

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan jalan-jalan ke danau seluas 2.670 hektar ini. Danau yang sebenarnya sangat indah ini terletak di cekungan terendah Ungaran, Gunung Telomoyo, dan Gunung Merbabu. Danau ini bisa dinikmati dari sebuah bukit di sisi danau yang dijadikan taman bernama bukit cinta. Konon kabarnya bisa membuat putus pasangan yang jalan-jalan kesana...atau sebaliknya bisa membuat jadian calon pasangan yang tengah pedekate. Soal kebenarannya silahkan dicoba sendiri ya..

Memasuki wisata bukit cinta kita akan disambut jajaran toko-toko yang menjual souvenir dan makanan khas rawa pening. Souvenir yang dijual adalah berbagai kerajinan tangan dari eceng gondok, mulai dari tas, sepatu, sandal, miniatur mobil mewah, bahkan furniture. Semua kerajinan itu dibuat dari batang-batang eceng gondok yang diambil dari Rawa Pening.

Melewati toko-toko cinderamata, seekor ular raksasa, si Baru Klinting, menyambut dengan mulut menganga lebar. Badannya yang panjang dan mengelilingi bukit dijadikan sebagai bangunan museum. Sayangnya saya tidak sempat menengok apa isi museum tersebut karena perginya berombongan dan acara lain sudah menanti.
Sebenarnya danau Rawa Pening teramat cantik. Dari tepi danau kita bisa memandang kehijauan pegunungan yang mengelilinginya. Namun, sayangnya danau yang terletak di Kabupaten Semarang dan Ambarawa ini penuh masalah, terutama karena tingginya sedimentasi (pengendapan) yang mencapai 270-880 kg/hari atau 780 ton /tahun. Sedimentasi ini berasal dari erosi daerah tangkapan air, lereng-lereng gunung yang mengelilingi Rawa Pening, yang semestinya adalah hutan sudah berubah menjadi lahan pertanian. Dan permasalahan lainnya adalah pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali. Hampir 70% luas danau sudah tertutup oleh eceng gondok. Seorang peneliti dari Universitas Diponegoro memperkirakan kalau kondisi tersebut dibiarkan saja, sepuluh tahun kedepan Rawa Pening tinggallah nama, berubah menjadi daratan (kompas.com).

Persoalan eceng gondok ini sebenarnya tak hanya menjadi masalah di Rawa Pening, Beberapa danau lain pun mengalami masalah karena tanaman yang berasal dari latin ini. Pada abad ke-19, seorang peneliti berkebangsaan Belanda membawa beberapa rumpun eceng gondok ke Kebun Raya Bogor untuk koleksi. Karena bunganya yang cantik, banyak pengunjung mengambil dan menyebarkan eceng gondok ke berbagai daerah. Dan sekarang tanaman ini menjadi permasalahan besar untuk perairan di Indonesia.

Di satu sisi eceng gondok menjadi lahan penghasilan bagi insan-insan kreatif untuk membuat berbagai kerajinan bernilai seni tinggi. Namun ditengarai bahwa pemotongan batang-batang eceng gondok justru mempercepat pertumbuhannya.

Pertumbuhan eceng gondok yang tak terkendali menyebabkan hampir seluruh permukaan danau tertutup dan menghalangi masuknya oksigen yang dibutuhkan biota danau ke dalam air. Sifatnya yang mudah terbawa angin membuat eceng gondok cepat menyebar dan berpindah-pindah hingga sering kejadian ada perahu di tengah danau yang tak bisa mencari jalan keluar, bahkan ada kejadian hilangnya wisatawan yang berperahu ke tengah danau. Sementara eceng gondok yang mati menambah  sedimentasi di dasar danau dan mempercepat pendangkalan danau.

Rasanya miris sekali melihat kondisi Rawa Pening saat ini. Keindahan yang mungkin tak akan bertahan lama lagi, bernasib sama dengan berbagai kekayaan alam lain di Indonesia yang tak dikelola dengan tepat. Saat ini Rawa Pening masuk dalam daftar 15 danau prioritas pengelolaan di Indonesia. Semoga saja segera dapat dibenahi, dan danaunya si Baru Klinting ini kembali indah seperti sedia kala.




dikutip dari http://beautyborneo.multiply.com/journal

Thursday, 3 May 2012

Kelompok Perempuan Bina Harapan Desa Penyengat Kec. Sei Apit Kab. Siak

Dokumentasi sosialisasi Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) di Desa Penyengat Kec. Sungai Apit Kab. Siak, Propinsi Riau