Friday, 4 May 2012



Pernah mendengar tentang Rawa Pening? Atau bahkan pernah berkunjung ke sana? Dari namanya saja sudah bikin kepala nyut-nyutan alias pening ya. Meskipun sebenarnya menurut tante wiki, kata 'pening' tidak ada kaitannya sama sekali dengan sakit kepala ataupun pusing. Pening justru berasal dari kata 'bening' yang dalam Bahasa Jawa berarti jernih. Namun, yang terjadi saat ini danau yang konon ceritanya terjadi dari cabutan lidinya Baru Klinting ini tidak lagi bening, justru benar-benar membuat pening banyak pihak yang berkepentingan.

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan jalan-jalan ke danau seluas 2.670 hektar ini. Danau yang sebenarnya sangat indah ini terletak di cekungan terendah Ungaran, Gunung Telomoyo, dan Gunung Merbabu. Danau ini bisa dinikmati dari sebuah bukit di sisi danau yang dijadikan taman bernama bukit cinta. Konon kabarnya bisa membuat putus pasangan yang jalan-jalan kesana...atau sebaliknya bisa membuat jadian calon pasangan yang tengah pedekate. Soal kebenarannya silahkan dicoba sendiri ya..

Memasuki wisata bukit cinta kita akan disambut jajaran toko-toko yang menjual souvenir dan makanan khas rawa pening. Souvenir yang dijual adalah berbagai kerajinan tangan dari eceng gondok, mulai dari tas, sepatu, sandal, miniatur mobil mewah, bahkan furniture. Semua kerajinan itu dibuat dari batang-batang eceng gondok yang diambil dari Rawa Pening.

Melewati toko-toko cinderamata, seekor ular raksasa, si Baru Klinting, menyambut dengan mulut menganga lebar. Badannya yang panjang dan mengelilingi bukit dijadikan sebagai bangunan museum. Sayangnya saya tidak sempat menengok apa isi museum tersebut karena perginya berombongan dan acara lain sudah menanti.
Sebenarnya danau Rawa Pening teramat cantik. Dari tepi danau kita bisa memandang kehijauan pegunungan yang mengelilinginya. Namun, sayangnya danau yang terletak di Kabupaten Semarang dan Ambarawa ini penuh masalah, terutama karena tingginya sedimentasi (pengendapan) yang mencapai 270-880 kg/hari atau 780 ton /tahun. Sedimentasi ini berasal dari erosi daerah tangkapan air, lereng-lereng gunung yang mengelilingi Rawa Pening, yang semestinya adalah hutan sudah berubah menjadi lahan pertanian. Dan permasalahan lainnya adalah pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali. Hampir 70% luas danau sudah tertutup oleh eceng gondok. Seorang peneliti dari Universitas Diponegoro memperkirakan kalau kondisi tersebut dibiarkan saja, sepuluh tahun kedepan Rawa Pening tinggallah nama, berubah menjadi daratan (kompas.com).

Persoalan eceng gondok ini sebenarnya tak hanya menjadi masalah di Rawa Pening, Beberapa danau lain pun mengalami masalah karena tanaman yang berasal dari latin ini. Pada abad ke-19, seorang peneliti berkebangsaan Belanda membawa beberapa rumpun eceng gondok ke Kebun Raya Bogor untuk koleksi. Karena bunganya yang cantik, banyak pengunjung mengambil dan menyebarkan eceng gondok ke berbagai daerah. Dan sekarang tanaman ini menjadi permasalahan besar untuk perairan di Indonesia.

Di satu sisi eceng gondok menjadi lahan penghasilan bagi insan-insan kreatif untuk membuat berbagai kerajinan bernilai seni tinggi. Namun ditengarai bahwa pemotongan batang-batang eceng gondok justru mempercepat pertumbuhannya.

Pertumbuhan eceng gondok yang tak terkendali menyebabkan hampir seluruh permukaan danau tertutup dan menghalangi masuknya oksigen yang dibutuhkan biota danau ke dalam air. Sifatnya yang mudah terbawa angin membuat eceng gondok cepat menyebar dan berpindah-pindah hingga sering kejadian ada perahu di tengah danau yang tak bisa mencari jalan keluar, bahkan ada kejadian hilangnya wisatawan yang berperahu ke tengah danau. Sementara eceng gondok yang mati menambah  sedimentasi di dasar danau dan mempercepat pendangkalan danau.

Rasanya miris sekali melihat kondisi Rawa Pening saat ini. Keindahan yang mungkin tak akan bertahan lama lagi, bernasib sama dengan berbagai kekayaan alam lain di Indonesia yang tak dikelola dengan tepat. Saat ini Rawa Pening masuk dalam daftar 15 danau prioritas pengelolaan di Indonesia. Semoga saja segera dapat dibenahi, dan danaunya si Baru Klinting ini kembali indah seperti sedia kala.




dikutip dari http://beautyborneo.multiply.com/journal

No comments:

Post a Comment