RAWA PENING, SI DANAU ECENG GONDOK |
Beberapa waktu lalu saya berkesempatan jalan-jalan ke danau seluas 2.670 hektar ini. Danau yang sebenarnya sangat indah ini terletak di cekungan terendah Ungaran, Gunung Telomoyo, dan Gunung Merbabu. Danau ini bisa dinikmati dari sebuah bukit di sisi danau yang dijadikan taman bernama bukit cinta. Konon kabarnya bisa membuat putus pasangan yang jalan-jalan kesana...atau sebaliknya bisa membuat jadian calon pasangan yang tengah pedekate. Soal kebenarannya silahkan dicoba sendiri ya..
Memasuki
Melewati toko-toko cinderamata, seekor ular raksasa, si Baru Klinting, menyambut dengan mulut menganga lebar. Badannya yang panjang dan mengelilingi bukit dijadikan sebagai bangunan museum. Sayangnya saya tidak sempat menengok apa isi museum tersebut karena perginya berombongan dan acara lain sudah menanti.
Sebenarnya danau Rawa Pening teramat cantik. Dari tepi danau kita bisa memandang kehijauan pegunungan yang mengelilinginya. Namun, sayangnya danau yang terletak di Kabupaten Semarang dan Ambarawa ini penuh masalah, terutama karena tingginya sedimentasi (pengendapan) yang mencapai 270-880 kg/hari atau 780 ton /tahun. Sedimentasi ini berasal dari erosi daerah tangkapan air, lereng-lereng gunung yang mengelilingi Rawa Pening, yang semestinya adalah hutan sudah berubah menjadi lahan pertanian. Dan permasalahan lainnya adalah pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali. Hampir 70% luas danau sudah tertutup oleh eceng gondok. Seorang peneliti dari Universitas Diponegoro memperkirakan kalau kondisi tersebut dibiarkan saja, sepuluh tahun kedepan Rawa Pening tinggallah nama, berubah menjadi daratan (kompas.com).
Persoalan eceng gondok ini sebenarnya tak hanya menjadi masalah di Rawa Pening, Beberapa danau lain pun mengalami masalah karena tanaman yang berasal dari
Di satu sisi eceng gondok menjadi lahan penghasilan bagi insan-insan kreatif untuk membuat berbagai kerajinan bernilai seni tinggi. Namun ditengarai bahwa pemotongan batang-batang eceng gondok justru mempercepat pertumbuhannya.
Pertumbuhan eceng gondok yang tak terkendali menyebabkan hampir seluruh permukaan danau tertutup dan menghalangi masuknya oksigen yang dibutuhkan biota danau ke dalam air. Sifatnya yang mudah terbawa angin membuat eceng gondok cepat menyebar dan berpindah-pindah hingga sering kejadian ada perahu di tengah danau yang tak bisa mencari jalan keluar, bahkan ada kejadian hilangnya wisatawan yang berperahu ke tengah danau. Sementara eceng gondok yang mati menambah sedimentasi di dasar danau dan mempercepat pendangkalan danau.
Rasanya miris sekali melihat kondisi Rawa Pening saat ini. Keindahan yang mungkin tak akan bertahan lama lagi, bernasib sama dengan berbagai kekayaan alam lain di Indonesia yang tak dikelola dengan tepat. Saat ini Rawa Pening masuk dalam daftar 15 danau prioritas pengelolaan di Indonesia. Semoga saja segera dapat dibenahi, dan danaunya si Baru Klinting ini kembali indah seperti sedia kala.
dikutip dari http://beautyborneo.multiply.com/journal
No comments:
Post a Comment